Surat Untuk Putra-putri BTP dan Ibu Vero

Dear putra putri pak Basuki Tjahja Purnama dan ibu Veronica: Nicholas Purnama, Daud Albeenner Purnama,..

Read more

Surat Untuk Putra-putri BTP dan Ibu Vero

Dear putra putri pak Basuki Tjahja Purnama dan ibu Veronica: Nicholas Purnama, Daud Albeenner Purnama, dan Nathania Purnama,

Saya menulis surat terbuka ini untuk kalian, khususnya untuk anak-anak Pak Ahok yang saya hormati. Menonton berita mengenai papa kalian, membuat saya mengingat kembali apa yang terjadi dengan ayah saya kurang lebih 23 tahun yang lalu, Biarlah saya share sedikit mengenai apa yang terjadi pada Agustus 1994. Pada waktu itu saya yang kelas 2 SMP dan adik saya yang kelas 1 SMP dijemput oleh Mas Yono, orang kepercayaan ayah saya, dari sekolah. Dengan wajah serius, kami diantar oleh Mas Yono ke rumah; dia tidak menjelaskan apa-apa. Wajahnya sudah membuat saya khawatir.

Ketika tiba di gang menuju rumah, saya melihat banyak polisi dalam pakaian dinas dan preman. Saya tahu mereka polisi yang berpakaian preman, karena saya sudah dilatih untuk mengenali mereka, mengingat situasi keluarga saya waktu itu. Oh iya, ayah saya adalah Muchtar Pakpahan, pejuang buruh masa Orde Baru yang mendirikan serikat buruh independen pertama di Indonesia yang menjadi role model saya. Ketika itu, sebuah demonstrasi buruh pertama baru terjadi di Medan. Hal itu mengejutkan Indonesia dan dunia, karena tidak ada yang berani mengganggu kekuatan Presiden Soeharto, sampai demonstrasi tersebut. Ayah saya adalah pemimpin dari organisasi tersebut.

Ketika saya masuk ke rumah, saya melihat adik perempuan saya juga sudah di rumah. Setibanya di sana, mamak dan ayah saya segera menarik kami ke kamar mereka, di rumah kecil kami yang sudah dikerumuni oleh banyak orang, ada yang saya kenal, banyak yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Ketika kami masuk ke kamar, saya mengingat persis ucapan ayah saya yang akan saya sampaikan kepada kalian, Nicholas, Daud, dan Nathania. Sambil memegang tangan saya dan adik-adik saya, ayah saya mengatakan ini,

“Ayah mau ditangkap dan ditahan. Ayah kalian bukan penjahat, bukan koruptor, dan bukan pencuri. Ayah ditangkap karena membela nasib rakyat kecil. Jangan pernah malu karena ayah.”

Kata-kata itu disampaikan ayah kepada kami, dan mamak juga terlihat kuat dan tegar mendampinginya. Kami sudah sering diberitahu mengenai kegiatan ayah kami yang berisiko. Kami sering diajak ke kampung-kampung sejak kecil ketika ayah kami memberi advokasi (istilah yang saya tahu sesudah saya dewasa) kepada para petani, buruh, dan rakyat kecil lainnya. Tapi hari itu, saya menjadi tahu persis apa risiko perjuangan ayah saya.

Ketika ayah dibawa ke Medan untuk ditahan, sambil ditemani mama, kami tinggal sendiri di rumah. Beruntung ada tante dan oom yang menemani kami malamnya. Telepon rumah tidak berhenti berdering, banyak yang menghubungi dari luar negeri yang menanyakan apakah benar ayah saya ditahan. Saya kemudian menjadi PR untuk beberapa hari. Ayah kami ditahan selama 9 bulan di Medan, dan nantinya akan ditahan 2 tahun lagi di LP Cipinang karena tuduhan subversif (melawan pemerintah) di tahun 1996-1998 (sampai Presiden Soeharto mundur). Kami juga merasakan ancaman yang datang melalui telepon, lemparan batu, dan orang-orang misterius yang sering mengikuti kami ke sekolah dan pulang sekolah.

Perasaan saya hancur sekali waktu itu. Pada satu hari, saya harus menjadi jurubicara keluarga karena ayah dan mamak pergi meninggalkan kami. Sebagai anak pertama, saya segera merasakan tanggung jawab untuk menjaga adik-adik saya.

Satu hal yang membuat saya mantap adalah ucapan ayah saya dan derasnya dukungan yang mengalir ke keluarga kami. Teman-teman saya di SMP mungkin belum memahami apa yang terjadi, namun para guru mendukung kami.

Beberapa hari kemudian mamak pulang dari Medan dan saya juga melihatnya menangis di rumah. Saat saya melihat bunda kalian ibu Veronica menangis, saya mengingat tangisan mamak saya yang awalnya terlihat tegar, namun akhirnya mengeluarkan emosinya. Karena itu, saya memutuskan untuk menulis catatan ini.

Perjuangan papa kalian adalah mulia. Keputusannya untuk tidak melanjutkan proses hukum juga adalah tanda kecintaannya akan bangsa ini, yang mungkin berisi orang-orang yang terlalu mudah dihasut demi kepentingan politis sesaat.

Tetapi, saya mau mengatakan ini kepada kalian.

Tetaplah berdoa, tetaplah kuat, dan jangan pernah menundukkan kepala. This too shall pass seperti kutipan Mazmur yang diambil oleh papa kalian “Berharaplah kepada Tuhan…” karena “Tuhan akan menyelesaikannya bagi papa kalian!”

Kami semua anak-anak ayah menjadi orang-orang kuat dan sangat mencintai Indonesia, persis karena ayah kami telah mencontohkannya. Saya menjadi pendeta dan dosen, adik laki-laki saya menjadi pengacara dan pejuang buruh, dan adik perempuan saya menjadi jurnalis dengan idealisme tinggi.

Kalian juga akan menjadi orang yang kuat dalam lindungan Tuhan. Temani ibu Veronica, karena dia akan menangis. Namun seperti mamak saya, mama kalian juga adalah perempuan kuat yang menjadi tulang punggung keluarga.

Untuk mengakhiri catatan ini, saya mau meneruskan ucapan ayah saya waktu itu, “Ayah mau ditangkap dan ditahan. Ayah kalian bukan penjahat, bukan koruptor, dan bukan pencuri. Ayah ditangkap karena membela nasib rakyat kecil. Jangan pernah malu karena ayah.”

We stand by you and pray for you. Jangan pernah malu karena kami sangat bangga akan perjuangan ayah kalian. Pada akhirnya waktu akan membuktikan penyertaan Tuhan.

Binsar Jonathan Pakpahan